Skip to content

Usaha Preventif terhadap Pornografi dalam Islam

Pornografi adalah tulisan atau gambar yang dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu seksual orang yang melihat dan membacanya. Sedangkan pornoaksi  adalah suatu penggambaran aksi gerakan yang dapat memancing bangkitnya nafsu seksual

Hukum Islam secara tegas mengatur bagaimana cara orang memelihara tubuh. Tubuh adalah amanah Allah yang wajib dipelihara oleh setiap insan demi menjaga kehormatan.Salah satu upaya memelihara kehormatan diri adalah mencegah dan memberantas maraknya pornografi-pornoaksi.Pornografi-pornoaksi dalam Islam masuk dalam kategori zina dan Islam melarang sekedar mendekatinya :

Upaya mencegah dan memberantas pornografi-pornoaksi adalah

1.Khalwat (menyendiri antara laki-laki dan perempuan)

Khalwah adalah keterpisahan atau menyendiri antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Yang dimaksud dengan mahram ada kaitan darah, keturunan atau melalui perkawinan. Parameter mahram atau bukan mahram adalah diperbolehkannya secara syar’i seseorang menikah dengan orang tersebut. Untuk menghindari sesuatu yang akan membawa kepada porno (hubungan seksual di luar nikah) adalah dengan membatasi pergaulan antara lain jenis manusia itu, kecuali mahramnya ada. Karena itu seorang perempuan yang keluar rumah, tanpa disertai mahramnya dilarang agama.

عن ابن مسعود رضي الله عنه عن النبي (ص) قال: الرأة عورة فاذا خرجت استشر فيها الشيطا

Dari Ibn Mas’ud bahwa Nabi saw, bersabda, wanita adalah aurat, maka apabila dia keluar rumah, maka setan tampil membelalakan matanya dan bermaksud buruk terhadapnya” (HR. at-Tirmidzi)

2. Obrolan seks (dilarang rafats)

Dalam Alquran terdapat ayat yang menyebut rafats, yaitu pada surat al-Baqarah: 197. Rafats ialah kata-kata “kotor”, tak enak didengar, berupa cumbu rayu dan kata-kata tidak baik diucapkan yang mendorong kepada hubungan seksual. Rafats adalah arti kiasan untuk hubungan seks, jima. Kata-kata ini tidak boleh sembarang diucapkan dan hanya dibolehkan pengucapannya antara istri dan suami, bahkan antar mereka pun dilarang pada waktu sedang melaksanakan ibadah haji dan dihindari pengucapannya di waktu saum pada siang hari. Al-Quran menyatakan sebagaimana tercantum pada al-Baqarah: 197:

3. Kewajiban menutupi aurat dan menundukkan pandangan

Kewajiban menutup aurat dan tidak mengumbar pandangan ada kaitan dengan kewajiban menjaga diri dan hati dari niat dan dorongan syetan terhadap manusia yang dalam hatinya ada maradh (penyakit dengan niat jahat) untuk melakukan onar. Larangan tersebut terdapat dalam QS. al-Ahzab: 59. dan QS. al-Nur: 30-31.

Adapun hadis yang berkaitan larangan porno yaitu:

عن عائشة رضي الله عنها : أن أسماء بنت أبى بكر دخلت على رسول الله  (ص) و عليها ثياب رقاق, فأعرض عنها رسول الله (ص) و قال: ياأسماء إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يرى منها إلا هذا و هذا (وأشار الى وجهه و كفيه)

“Aisyah ra., berkata bahwa Asma putri Abu Bakar ra, datang menemui Rasulullah saw., dengan mengenakan pakaian tipis (transparan), maka Rasulullah saw., berpaling enggan melihatnya dan bersabda: “hai Asma, sesungguhnya perempuan jika telah haid, tidak wajar terlihat darinya kecuali ini dan ini “ (sambil beliau menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangan beliau). (HR. Abu Daud dan al-Baihaqi)[1].

4. Perzinaan harus dijauhi, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra: 32

Sejumlah mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud mendekati zina adalah seperangkat niat, perkataan dan perbuatan yang mendorong ke arah zina. Termasuk dalam kategori zina adalah sengaja berduaan antara laki-laki dan perempuan, mengucapkan ungkapan-ungkapan yang merangsang, mempertontonkan bagian-bagian yang merangsang baik secara langsung maupun melalui gambar-gambar porno yang merangsang birahi

5. Hukuman berat bagi pezina.

Hukuman bagi para pezina amat berat ada yang dengan rajam untuk zina muhshan dan ada yang dengan deraan untuk zina ghair muhshan. Rajam diterangkan dalam hadis ketika seseorang mendatangi Rasulullah dan secara terus terang dia mengaku sudah melakukan perzinaan. Setelah dibuktikan dengan mengucapkan syahadat empat kali maka Rasul bersabda:

ياأنيس على امرأة هذا فإناعترفت فارجمها

“ Ya Unais pergilah pagi ini menemui istri orang ini, jika ian mengaku maka rajamlah”. (HR. Ibnu Majah)[2].

Dalam surat al-Nur disebutkan untuk zina ghair muhshan sebagai diterangkan berikut:

“Perempuan berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing seratus kali deraan , dan janglah mengambil kasian terhadap mereka dengan agama Allah (ini), bila kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan saksikanlah (dalam melaksanakan) hukuman kepada mereka segolongan orang beriman”. (QS. al-Nur: 2).

6. Pelaku perzinaan (porne) kehilangan martabat diri

Suatu hadis diterima dari Hudzifah bahwa Nabi saw bersabda:

Wahai manusia, hati-hatilah (takutlah) pada zina, Karena (bila dilakukannya) ada enam macam siksa. Tiga macam siksa di dunai dan tiga lagi di akhirat. Siksa di dunia adalah: Akan kehilangan kehebatan (martabat baik dirinya, mengakibatkan kesengasaraan, dan akan berumur pendek (cepat mati). Sementara itu tiga siksa di akhirat ialah: Kemurkaan Allah swt, hisaban yang jelek, dan siksa neraka”.

Semua ayat-ayat al-Quran dan hadis di atas agar seseorang tidak dengan mudah melakukan perzinaan atau berbuat porno. Dimulai dengan memelihara diri dari pergaulan, obrolan, sampai kepada perilaku yang membawa kepada perzinaan seperti berdekatan dengan perempuan dan lain-lain. Maka pornografi dan pornoaksi yang merupakan penggambaran lewat tulisan, lukisan, bahkan langsung peragaan sipelaku merupakan perbuatan haram. Bagi perbuatan pornografi dan pornoaksi ini belum ada landasan hukumnya (hudud) dalam al-Quran dan hadis secara eksplit dan rinci, maka pemerintah berkewajiban menetapkan ta’zir lewat undang-undang dan itu merupakan hak kaum muslimin yang mayoritas dan hak pemerintah Republik Indonesia yang dijamin UUD. Segala produk hukum tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma Ilahiyah, sebagaimana tercantum pada pasal 29.

Tidak ada ketentuan secara eksplisit dalam hudud Islam bagi para pelaku pornografi dan pornoaksi. Bila perbuatan porno bisa mendapat hudud dengan rajam atau dera, tetapi yang penggambaran belaka diserahkan kepada pemerintah untuk menetapkan keputusan hukumnya, yang dalam bahasa fikih disebut ta’zir. Ta’zir tersebut berat dan ringannya diserahkan kepada telaah hakim yang ketentuan bisa dengan penjara atau hukuman lain yang setimpal yang mungkin disertai dendaan berupa material. Dalam KUHP sekarang sudah ada pasal 282 dan 283 tentang pelanggaran kesusilaan. Bila dapat dilaksanakan dapat mencegah kriminalitas yang disebabkan pornografi dan pornografi.


[1] Sunan Abi Daud, Tahqiq Muhammad ‘Abdul ‘Aziz al-Khalidi, Beirut: Dar ihya as-Sunnah an-Nabawiyah, Jilid III, Hadis no.4104.

[2] Abdullah Shonhaji dkk, Tarjamah Sunan Ibnu Majah, Jilid 3 (Semarang; Asy-syifa, 1993), h.347

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: